عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ
رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ دَعَا
إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنْ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لَا
يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ
كَانَ عَلَيْهِ مِنْ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ
ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا
4609. Dari Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW telah bersabda, "Barangsiapa
yang menyeru kepada petunjuk (kebenaran) maka baginya pahala seperti
pahala orang yang mengikutinya dan tidak dikurangi sedikit pun dari
pahala mereka. Barangsiapa yang menyeru kepada kesesatan maka atasnya
dosa seperti dosa orang yang mengikutinya dan tidak dikurangi sedikit
pun dari dosa mereka. " Shahih: Ibnu Majah (206): Muslim.
عَنْ عَامِرِ بْنِ سَعْدٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ قَالَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ أَعْظَمَ
الْمُسْلِمِينَ فِي الْمُسْلِمِينَ جُرْمًا مَنْ سَأَلَ عَنْ أَمْرٍ لَمْ
يُحَرَّمْ فَحُرِّمَ عَلَى النَّاسِ مِنْ أَجْلِ مَسْأَلَتِهِ
4610. Dari Sa'd, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya
dosa terbesar seorang Muslim pada orang Muslim lainnya adalah seorang
yang bertanya tentang sesuatu tidak diharamkan, kemudian menjadi
diharamkan kepada manusia karena pertanyaannya tersebut." Shahih: Muttafaq' Alaih
أَخْبَرَهُ أَنَّ يَزِيدَ بْنَ عُمَيْرَةَ وَكَانَ مِنْ أَصْحَابِ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ أَخْبَرَهُ قَالَ كَانَ
لَا يَجْلِسُ مَجْلِسًا لِلذِّكْرِ حِينَ يَجْلِسُ إِلَّا قَالَ اللَّهُ
حَكَمٌ قِسْطٌ هَلَكَ الْمُرْتَابُونَ فَقَالَ مُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ يَوْمًا
إِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ فِتَنًا يَكْثُرُ فِيهَا الْمَالُ وَيُفْتَحُ
فِيهَا الْقُرْآنُ حَتَّى يَأْخُذَهُ الْمُؤْمِنُ وَالْمُنَافِقُ
وَالرَّجُلُ وَالْمَرْأَةُ وَالصَّغِيرُ وَالْكَبِيرُ وَالْعَبْدُ
وَالْحُرُّ فَيُوشِكُ قَائِلٌ أَنْ يَقُولَ مَا لِلنَّاسِ لَا
يَتَّبِعُونِي وَقَدْ قَرَأْتُ الْقُرْآنَ مَا هُمْ بِمُتَّبِعِيَّ حَتَّى
أَبْتَدِعَ لَهُمْ غَيْرَهُ فَإِيَّاكُمْ وَمَا ابْتُدِعَ فَإِنَّ مَا
ابْتُدِعَ ضَلَالَةٌ وَأُحَذِّرُكُمْ زَيْغَةَ الْحَكِيمِ فَإِنَّ
الشَّيْطَانَ قَدْ يَقُولُ كَلِمَةَ الضَّلَالَةِ عَلَى لِسَانِ الْحَكِيمِ
وَقَدْ يَقُولُ الْمُنَافِقُ كَلِمَةَ الْحَقِّ قَالَ قُلْتُ لِمُعَاذٍ
مَا يُدْرِينِي رَحِمَكَ اللَّهُ أَنَّ الْحَكِيمَ قَدْ يَقُولُ كَلِمَةَ
الضَّلَالَةِ وَأَنَّ الْمُنَافِقَ قَدْ يَقُولُ كَلِمَةَ الْحَقِّ قَالَ
بَلَى اجْتَنِبْ مِنْ كَلَامِ الْحَكِيمِ الْمُشْتَهِرَاتِ الَّتِي يُقَالُ
لَهَا مَا هَذِهِ وَلَا يُثْنِيَنَّكَ ذَلِكَ عَنْهُ فَإِنَّهُ لَعَلَّهُ
أَنْ يُرَاجِعَ وَتَلَقَّ الْحَقَّ إِذَا سَمِعْتَهُ فَإِنَّ عَلَى
الْحَقِّ نُورًا
قَالَ
أَبُو دَاوُد قَالَ مَعْمَرٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ فِي هَذَا الْحَدِيثِ
وَلَا يُنْئِيَنَّكَ ذَلِكَ عَنْهُ مَكَانَ يُثْنِيَنَّكَ و قَالَ صَالِحُ
بْنُ كَيْسَانَ عَنْ الزُّهْرِيِّ فِي هَذَا الْمُشَبِّهَاتِ مَكَانَ
الْمُشْتَهِرَاتِ وَقَالَ لَا يُثْنِيَنَّكَ كَمَا قَالَ عُقَيْلٌ و قَالَ
ابْنُ إِسْحَقَ عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ بَلَى مَا تَشَابَهَ عَلَيْكَ مِنْ
قَوْلِ الْحَكِيمِ حَتَّى تَقُولَ مَا أَرَادَ بِهَذِهِ الْكَلِمَةِ
4611. Dari Yazid bin Umairah (salah seorang sahabat Mu'adz bin Jabal RA) berkata,
"Tidak pernah sekalipun Mu'adz bin Jabal duduk di sebuah majlis kecuali
ia selalu berkata, 'Allah Maha Bijak, Allah Maha Adil. (Maka) celakalah
orang-orang yang bersikap ragu.' Suatu hari, Muadz bin Jabal RA
berkata, 'Sesunnguhnya di belakang kalian banyak terjadi fitnah, (di
zaman tersebut) harta kian berlimpah dan Al Qur'an bisa dibaca oleh
siapa saja, baik orang yang beriman ataupun munafik, laki-laki atau
perempuan, anak kecil atau orang dewasa, orang merdeka atau hamba
sahaya, hingga seseorang akan berkata, 'Mengapa manusia tidak mau
mengikutiku, padahal aku telah membacakan Al Qur'an.' Mereka tidak mau
mengikuti kecuali jika aku membuat sebuah bid'ah.' Berhati-hatilah
kalian terhadap bid'ah. Sesungguhnya bid'ah akan membawa kepada
kesesatan. Berhati-hatilah kalian kepada hakim yang menyimpang. Sebab,
syetan terkadang menitipkan misinya melalui lisan hakim tersebut,
seorang munafik terkadang mengucapkan pernyataan yang benar.' Saat itu,
aku (Yazid bin Umairah) bertanya, 'Apakah aku akan mengalami zaman saat
seorang hakim terkadang pemyataannya sesat dan seorang munafik terkadang
pemyataannya benar?' Ia menjawab, "Ya. Berhati-hatilah terhadap
pernyataan hakim yang nyeleneh. Meski demikian, janganlah kalian
mengucilkannya. Sebab kemungkinan ia akan kembali kepada kebenaran dan
kamu mendengarkan kebenaran darinya, Sebab dalam sebuah kebenaran pasti
ada cahaya.' Dalam lafazh yang lain: disebutkan "la yun'iyannaka dzalika
'anhu " sebagai ganti dari kata "yutsniyannaka ".Dalam lafazh yang lain
disebutkan, "Al musyabbihat".Dalam sebuah lafazh disebutkan, "Dia
berkata, 'Ya; terdapat kerancuan dari perkataan hakim, hingga kamu
mengatakan, 'Apa yang dia maksud dengan kalimat ini'?"Shahih, dengan sanad yang mauquf.
عَنْ أَبِي الصَّلْتِ قَالَ كَتَبَ رَجُلٌ إِلَى عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ يَسْأَلُهُ عَنْ الْقَدَرِ فَكَتَبَ أَمَّا
بَعْدُ أُوصِيكَ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالِاقْتِصَادِ فِي أَمْرِهِ
وَاتِّبَاعِ سُنَّةِ نَبِيِّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتَرْكِ
مَا أَحْدَثَ الْمُحْدِثُونَ بَعْدَ مَا جَرَتْ بِهِ سُنَّتُهُ وَكُفُوا
مُؤْنَتَهُ فَعَلَيْكَ بِلُزُومِ السُّنَّةِ فَإِنَّهَا لَكَ بِإِذْنِ
اللَّهِ عِصْمَةٌ ثُمَّ اعْلَمْ أَنَّهُ لَمْ يَبْتَدِعْ النَّاسُ بِدْعَةً
إِلَّا قَدْ مَضَى قَبْلَهَا مَا هُوَ دَلِيلٌ عَلَيْهَا أَوْ عِبْرَةٌ
فِيهَا فَإِنَّ السُّنَّةَ إِنَّمَا سَنَّهَا مَنْ قَدْ عَلِمَ مَا فِي
خِلَافِهَا وَلَمْ يَقُلْ ابْنُ كَثِيرٍ مَنْ قَدْ عَلِمَ مِنْ الْخَطَإِ
وَالزَّلَلِ وَالْحُمْقِ وَالتَّعَمُّقِ فَارْضَ لِنَفْسِكَ مَا رَضِيَ
بِهِ الْقَوْمُ لِأَنْفُسِهِمْ فَإِنَّهُمْ عَلَى عِلْمٍ وَقَفُوا
وَبِبَصَرٍ نَافِذٍ كَفُّوا وَهُمْ عَلَى كَشْفِ الْأُمُورِ كَانُوا
أَقْوَى وَبِفَضْلِ مَا كَانُوا فِيهِ أَوْلَى فَإِنْ كَانَ الْهُدَى مَا
أَنْتُمْ عَلَيْهِ لَقَدْ سَبَقْتُمُوهُمْ إِلَيْهِ وَلَئِنْ قُلْتُمْ
إِنَّمَا حَدَثَ بَعْدَهُمْ مَا أَحْدَثَهُ إِلَّا مَنْ اتَّبَعَ غَيْرَ
سَبِيلِهِمْ وَرَغِبَ بِنَفْسِهِ عَنْهُمْ فَإِنَّهُمْ هُمْ السَّابِقُونَ
فَقَدْ تَكَلَّمُوا فِيهِ بِمَا يَكْفِي وَوَصَفُوا مِنْهُ مَا يَشْفِي
فَمَا دُونَهُمْ مِنْ مَقْصَرٍ وَمَا فَوْقَهُمْ مِنْ مَحْسَرٍ وَقَدْ
قَصَّرَ قَوْمٌ دُونَهُمْ فَجَفَوْا وَطَمَحَ عَنْهُمْ أَقْوَامٌ فَغَلَوْا
وَإِنَّهُمْ بَيْنَ ذَلِكَ لَعَلَى هُدًى مُسْتَقِيمٍ كَتَبْتَ تَسْأَلُ
عَنْ الْإِقْرَارِ بِالْقَدَرِ فَعَلَى الْخَبِيرِ بِإِذْنِ اللَّهِ
وَقَعْتَ مَا أَعْلَمُ مَا أَحْدَثَ النَّاسُ مِنْ مُحْدَثَةٍ وَلَا
ابْتَدَعُوا مِنْ بِدْعَةٍ هِيَ أَبْيَنُ أَثَرًا وَلَا أَثْبَتُ أَمْرًا
مِنْ الْإِقْرَارِ بِالْقَدَرِ لَقَدْ كَانَ ذَكَرَهُ فِي الْجَاهِلِيَّةِ
الْجُهَلَاءُ يَتَكَلَّمُونَ بِهِ فِي كَلَامِهِمْ وَفِي شِعْرِهِمْ
يُعَزُّونَ بِهِ أَنْفُسَهُمْ عَلَى مَا فَاتَهُمْ ثُمَّ لَمْ يَزِدْهُ
الْإِسْلَامُ بَعْدُ إِلَّا شِدَّةً وَلَقَدْ ذَكَرَهُ رَسُولُ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي غَيْرِ حَدِيثٍ وَلَا حَدِيثَيْنِ
وَقَدْ سَمِعَهُ مِنْهُ الْمُسْلِمُونَ فَتَكَلَّمُوا بِهِ فِي حَيَاتِهِ
وَبَعْدَ وَفَاتِهِ يَقِينًا وَتَسْلِيمًا لِرَبِّهِمْ وَتَضْعِيفًا
لِأَنْفُسِهِمْ أَنْ يَكُونَ شَيْءٌ لَمْ يُحِطْ بِهِ عِلْمُهُ وَلَمْ
يُحْصِهِ كِتَابُهُ وَلَمْ يَمْضِ فِيهِ قَدَرُهُ وَإِنَّهُ مَعَ ذَلِكَ
لَفِي مُحْكَمِ كِتَابِهِ مِنْهُ اقْتَبَسُوهُ وَمِنْهُ تَعَلَّمُوهُ
وَلَئِنْ قُلْتُمْ لِمَ أَنْزَلَ اللَّهُ آيَةَ كَذَا لِمَ قَالَ كَذَا
لَقَدْ قَرَءُوا مِنْهُ مَا قَرَأْتُمْ وَعَلِمُوا مِنْ تَأْوِيلِهِ مَا
جَهِلْتُمْ وَقَالُوا بَعْدَ ذَلِكَ كُلِّهِ بِكِتَابٍ وَقَدَرٍ وَكُتِبَتِ
الشَّقَاوَةُ وَمَا يُقْدَرْ يَكُنْ وَمَا شَاءَ اللَّهُ كَانَ وَمَا لَمْ
يَشَأْ لَمْ يَكُنْ وَلَا نَمْلِكُ لِأَنْفُسِنَا ضَرًّا وَلَا نَفْعًا
ثُمَّ رَغِبُوا بَعْدَ ذَلِكَ وَرَهِبُوا
4612. Dari Abu Shalt, ia berkata, "Ada seorang lelaki yang menulis surat kepada Umar bin Abdul Aziz. Di dalam suratnya ia bertanya tentang masalah takdir. Maka Umar bin Abdul Aziz menjawab:"Amma
ba'du. Aku berwasiat kepadamu agar kamu bertakwa kepada Allah SWT,
konsisten menjalankan perintah-Nya dan mengikuti Sunnah Nabi-Nya,
meninggalkan apa-apa yang dibuat oleh orang yang mengada-ngada (pelaku
bid'ah) yang bertentangan dengan Sunnah Rasulullah yang selama sudah
berjalan. Hendaklah
kamu berpegang teguh kepada Sunnah Nabi SAW. Sebab, dengan izin Allah
SWT, Sunnah tersebut akan menjagamu dari kesesatan. Ketahuilah,
sesunguhnya tidak ada satupun bid'ah kecuali telah ada penjelasan dalil
mengenai kebida'ahannya; baik secara tegas atau isyarat. Sebab yang
menjadi sumber Sunnah adalah orang yang telah mengetahui kebalikannya
—Ibnu Katsir tidak mengatakan, "Orang yang telah mengetahui"— dari
berbagai kesalahan, kekeliruan dan kebodohan. Bersikap ridhalah dengan
apa-apa yang telah dipegang oleh para pendahulu yang mulia. Mereka (para
sahabat) dengan ketinggian ilmu yang mereka miliki, mereka tetap
menahan diri untuk tidak membicarakan masalah takdir. Meski dengan
kecerdasan yang cemerlang, mereka tetap juga menahan diri. Padahal dari
sisi keilmuan, mereka lebih memahami dan dari sisi keutamaan, mereka
lebih layak memperbincangkannya. Jika kebenaran adalah apa yang sedang
kalian geluti selama ini (memperbincangkan masalah takdir), berarti
kalian merasa lebih mampu daripada mereka. Jika kalian berkata bahwa apa
yang terjadi adalah hasil dari pekerjaan orang-orang yang tidak
mengikuti perjalanan mereka (para sahabat), ketahuilah sesungguhnya para
sahabat adalah orang-orang yang lebih dahulu mendapati permasalahan
ini. Meski demikian, mereka berbicara sekedarnya tentang masalah ini dan
tidak berlebih-lebihan. Sementara yang tidak mengikuti mereka telah
bersikap tidak sebagaimana mestinya. Meski dengan sikap sahabat yang
demikian, mereka berada di atas jalan yang benar dan lurus yang telah
digariskan. Kamu telah berkirim surat dan bertanya kepadaku tentang
meyakini adanya takdir (ketentuan yang telah Allah SWT gariskan). Aku
jawab: Aku tidak mengetahui hal yang paling suka diada-adakan oleh
banyak orang dan dengannya mereka berbuat bid'ah. Tindakan mereka ini
sangat nyata dampaknya. Aku tidak tahu permasalahan yang lebih dahsyat
dibandingkan dengan masalah takdir. Orang-orang bodoh di zaman Jahiliah
sering membicarakanya, kemudian Rasulullah SAW juga telah sering
membicarakannya, tidak hanya dalam satu atau dua hadits, dan kaum
muslimin pun telah mendengarnya dari Nabi SAW. Mereka membicarakanya,
baik saat Nabi SAW masih hidup maupun setelah beliau wafat. Mereka
menyikapi permasalahan ini dengan keyakinan penuh, menerima apa yang
diberitakan Allah SWT, dengan penuh kerendahan diri dan menyadari
keterbatasan diri mereka (sebagai manusia). Sesungguhnya permasalahan
takdir telah dijelaskan dalam ayatnya yang bersifat muhkam. Dari ayat
tersebut mereka memahami permasalahan takdir dan mempelajarinya. Jika
kalian bertanya, 'Mengapa Allah SWT menurunkan ayat yang demikian, dan
mengapa Dia menyatakan demikian?' Sungguh para sahabat Nabi SAW telah
membaca seperti apa yang kalian baca, bahkan mereka mengetahui
penafsirannya sedangkan kalian tidak mengetahuinya. Meski demikian,
mereka tetap beriman kepada takdir. Apa yang ditakdirkan Allah SWT pasti
terjadi dan apa yang tidak dikehendaki-Nya tidak akan pernah terjadi.
Sungguh kita semua tidak memiliki daya dan upaya untuk menolak madharat
(bahaya) atau menarik manfaat. Maka setelah itu mereka menjadi enggan
(membicarakannya) dan merasa takut. Shahih Maqthu': Taisir Al Intifa'/Nadhar bin 'Arabi.
عَنْ نَافِعٍ قَالَ كَانَ
لِابْنِ عُمَرَ صَدِيقٌ مِنْ أَهْلِ الشَّامِ يُكَاتِبُهُ فَكَتَبَ
إِلَيْهِ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ إِنَّهُ بَلَغَنِي أَنَّكَ
تَكَلَّمْتَ فِي شَيْءٍ مِنْ الْقَدَرِ فَإِيَّاكَ أَنْ تَكْتُبَ إِلَيَّ
فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
يَقُولُ إِنَّهُ سَيَكُونُ فِي أُمَّتِي أَقْوَامٌ يُكَذِّبُونَ
بِالْقَدَرِ
4613.
Dari Nafi', ia berkata, "Ibnu Umar pernah memiliki sahabat asal Syam
yang menulis surat kepadanya. Kemudian Ibnu Umar menjawab, "Telah sampai
berita kepadaku bahwa kamu mempermasalahkan tentang takdir. Janganlah
kamu bertanya kepadaku tentang itu, karena sesungguhnya aku pernah
mendengar Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya akan ada di antara umatku segolongan orang yang mendustakan takdir. " Hasan: Ibnu Majah (4061).
عَنْ خَالِدٍ الْحَذَّاءِ قَالَ قُلْتُ لِلْحَسَنِ يَا
أَبَا سَعِيدٍ أَخْبِرْنِي عَنْ آدَمَ أَلِلسَّمَاءِ خُلِقَ أَمْ
لِلْأَرْضِ قَالَ لَا بَلْ لِلْأَرْضِ قُلْتُ أَرَأَيْتَ لَوْ اعْتَصَمَ
فَلَمْ يَأْكُلْ مِنْ الشَّجَرَةِ قَالَ لَمْ يَكُنْ لَهُ مِنْهُ بُدٌّ
قُلْتُ أَخْبِرْنِي عَنْ قَوْلِهِ تَعَالَى { مَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ بِفَاتِنِينَ إِلَّا مَنْ هُوَ صَالِ الْجَحِيمِ } قَالَ إِنَّ الشَّيَاطِينَ لَا يَفْتِنُونَ بِضَلَالَتِهِمْ إِلَّا مَنْ أَوْجَبَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَحِيمَ
4614.
Dari Khalid Al Hadzdza' ia berkata, "Aku pernah bertanya kepada Al
Hasan, 'Wahai Abu Sa'id, jelaskanlah kepadaku tetang Nabi Adam AS,
apakah beliau diciptakan untuk berdiam di langit atau di bumi?' Al Hasan
menjawab, 'Adam diciptakan untuk menjadi penghuni bumi.' 'Bagaimana
pendapatmu jika Adam benar-benar tidak memakan buah yang dilarang, apa
gerangan yang akan terjadi?' tanyaku. Al Hasan menjawab, 'Hal itu tidak
menjadi keharusan kepadanya."Aku bertanya lagi, "Apa makna firman Allah
SWT, "Sekali-kali tidak dapat menyesatkan (seseorang) terhadap Allah, kecuali orang-orang yang akan masuk neraka yang menyala." (Qs.
Ash-Shaffaat [37]: 162-163) Ia menjawab, "Sesungguhnya syetan tidak
akan menebar fitnah untuk menyesatkan mereka, kecuali terhadap
orang-orang yang telah ditetapkan Allah menjadi penghuni neraka
Jahanam." Hasan dengan isnad maqthu'.
عَنْ الْحَسَنِ فِي قَوْلِهِ تَعَالَى { وَلِذَلِكَ خَلَقَهُمْ } قَالَ خَلَقَ هَؤُلَاءِ لِهَذِهِ وَهَؤُلَاءِ لِهَذِهِ
4615. Dari Al Hasan tentang firman Allah,
"Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka." (Qs. Huud [11]: 119), ia
berkata, "Allah telah menciptakan kalangan ini untuk menempati ini, dan
kelompok lain untuk menempati yang ini." Hasan dengan isnad maqthu'.
حَدَّثَنَا خَالِدٌ الْحَذَّاءُ قَالَ قُلْتُ لِلْحَسَنِ { مَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ بِفَاتِنِينَ إِلَّا مَنْ هُوَ صَالِ الْجَحِيمِ } قَالَ إِلَّا مَنْ أَوْجَبَ اللَّهُ تَعَالَى عَلَيْهِ أَنَّهُ يَصْلَى الْجَحِيمَ
4616. Dari Khalid Al Hadzdza", ia berkata,
"Aku berkata kepada Al Hasan, "Sekali-kali tidak dapat menyesatkan
(seseorang) terhadap Allah, kecuali orang-orang yang akan masuk neraka
yang menyala. " (Qs. Ash-Shaffaat [37]: 162-163) Al Hasan menjawab,
"Hanya kalangan orang yang telah ditetapkan oleh Allah yang akan menjadi
penghuni neraka." Hasan dengan isnad maqthu'.
أَخْبَرَنِي حُمَيْدٌ كَانَ الْحَسَنُ يَقُولُ لَأَنْ يُسْقَطَ مِنْ السَّمَاءِ إِلَى الْأَرْضِ أَحَبُّ إِلَيْهِ مِنْ أَنْ يَقُولَ الْأَمْرُ بِيَدِي
4617. Dari Humaid, Al Hasan pernah berkata,
"Dijatuhkannya (Adam) dari langit ke bumi lebih disukai, daripada harus
mengatakan bahwa itu bukanlah takdir (ketentuan Allah)." Hasan dengan isnad maqthu
حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ قَالَ قَدِمَ عَلَيْنَا الْحَسَنُ مَكَّةَ فَكَلَّمَنِي
فُقَهَاءُ أَهْلِ مَكَّةَ أَنْ أُكَلِّمَهُ فِي أَنْ يَجْلِسَ لَهُمْ
يَوْمًا يَعِظُهُمْ فِيهِ فَقَالَ نَعَمْ فَاجْتَمَعُوا فَخَطَبَهُمْ فَمَا
رَأَيْتُ أَخْطَبَ مِنْهُ فَقَالَ رَجُلٌ يَا أَبَا سَعِيدٍ مَنْ خَلَقَ
الشَّيْطَانَ فَقَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ هَلْ مِنْ خَالِقٍ غَيْرُ اللَّهِ
خَلَقَ اللَّهُ الشَّيْطَانَ وَخَلَقَ الْخَيْرَ وَخَلَقَ الشَّرَّ قَالَ
الرَّجُلُ قَاتَلَهُمْ اللَّهُ كَيْفَ يَكْذِبُونَ عَلَى هَذَا الشَّيْخِ
4618. Dari Humaid, ia berkata,
"Al Hasan pernah mengunjungi kami di Makkah, kemudian para ulama Mekah
berbicara kepadaku agar aku menyampaikan kepadanya permohonan mereka
supaya Al Hasan bersedia meluangkan waktu untuk memeberi nasihat kepada
mereka. Permintaan itu pun ia sanggupi. Pada hari yang ditentukan,
mereka berkumpul dan Al Hasan berbicara di hadapan mereka. Sungguh tidak
pernah kudengar seseorang berbicara sebaik ia berbicara. Saat itu, ada
seorang lelaki bertanya, 'Wahai Aba Sa'id, siapakah yang menciptakan
syetan?' Ia menjawab, 'Maha Suci Allah! Apakah ada pencipta selain
Allah?! Sungguh, Allah menciptakan syetan, Dia yang menciptakan kebaikan
dan Dia pula yang menciptakan keburukan.' Lelaki itu berkata, "Semoga
Allah memerangi mereka, bagaimana mungkin mereka mendustakan penjelasan
syaikh yang bijak ini?' Shahih. Ibid.
عَنْ الْحَسَنِ { كَذَلِكَ نَسْلُكُهُ فِي قُلُوبِ الْمُجْرِمِينَ } قَالَ الشِّرْكُ
4619. Dari Al Hasan, tentang firman Allah, "Demikianlah,
Kami memasukkan (rasa ingkar dan memperolok-olokkan itu) ke dalam hati
orang-orang yang berdosa (orang-orang kafir)." (Qs. Al Hijr [15]: 12) ia berkata, "Itu adalah syirik." Shahih Ibid
عَنْ ابْنِ عَوْنٍ قَالَ كُنْتُ
أَسِيرُ بِالشَّامِ فَنَادَانِي رَجُلٌ مِنْ خَلْفِي فَالْتَفَتُّ فَإِذَا
رَجَاءُ بْنُ حَيْوَةَ فَقَالَ يَا أَبَا عَوْنٍ مَا هَذَا الَّذِي
يَذْكُرُونَ عَنْ الْحَسَنِ قَالَ قُلْتُ إِنَّهُمْ يَكْذِبُونَ عَلَى
الْحَسَنِ كَثِيرًا
4621.
Dari bin Aun, ia berkata, "Aku pernah menempuh perjalanan menuju Syam,
lalu ada seseorang memanggilku. Ketika aku berpaling kepadanya, ternyata
ia adalah Raja' bin Haiwah. Kemudian ia berkata, 'Wahai Abu Aun, apa
yang diceritakan orang tentang Al Hasan?' Aku menjawab, "Sungguhnya
mereka kerap berbohong atas nama Al Hasan." Shahih dengan isnad maqthu'.
سَمِعْتُ أَيُّوبَ يَقُولُ كَذَبَ
عَلَى الْحَسَنِ ضَرْبَانِ مِنْ النَّاسِ قَوْمٌ الْقَدَرُ رَأْيُهُمْ
وَهُمْ يُرِيدُونَ أَنْ يُنَفِّقُوا بِذَلِكَ رَأْيَهُمْ وَقَوْمٌ لَهُ فِي
قُلُوبِهِمْ شَنَآنٌ وَبُغْضٌ يَقُولُونَ أَلَيْسَ مِنْ قَوْلِهِ كَذَا
أَلَيْسَ مِنْ قَوْلِهِ كَذَا
4622. Dari Ayyub, ia berkata,
"Ada dua golongan yang berbohong atas nama Al Hasan. Yang pertama
adalah kalangan yang benar-benar menyatakan bahwa takdir adalah kreasi
mereka sendiri, mereka menebar fitnah kemunafikan dengan pernyataan
mereka tersebut. Yang kedua adalah golongan yang hatinya benci kepada Al
Hasan, dan mereka berkata, "Bukankah pemyataannya demikian? Bukankah
pernyataannya demikian?" Shahih. Ibid.
أَنَّ يَحْيَى بْنَ كَثِيرٍ الْعَنْبَرِيَّ حَدَّثَهُمْ قَالَ كَانَ قُرَّةُ بْنُ خَالِدٍ يَقُولُ لَنَا يَا فِتْيَانُ لَا تُغْلَبُوا عَلَى الْحَسَنِ فَإِنَّهُ كَانَ رَأْيُهُ السُّنَّةَ وَالصَّوَابَ
4623.
Dari Yahya bin Katsir Al Anbari, ia berkata, "Qurrah bin Khalid pernah
berkata kepada kami, 'Wahai para pemuda, janganlah kalian melawan Al
Hasan, karena pendapatnya berdasarkan Sunnah dan berisi kebenaran." Shahih. Ibid.
عَنْ ابْنِ عَوْنٍ قَالَ لَوْ
عَلِمْنَا أَنَّ كَلِمَةَ الْحَسَنِ تَبْلُغُ مَا بَلَغَتْ لَكَتَبْنَا
بِرُجُوعِهِ كِتَابًا وَأَشْهَدْنَا عَلَيْهِ شُهُودًا وَلَكِنَّا قُلْنَا
كَلِمَةٌ خَرَجَتْ لَا تُحْمَلُ
4624.
Dari Ibnu 'Aun, ia berkata, "Jika kami mengetahui bahwa ungkapan yang
diucapkan Al Hasan melebihi dari sekedar apa yang telah disampaikan,
niscaya kami akan menuliskannya banyak rujukan untuk pendapatnnya
tersebut dan kami persaksikan baginya kesaksian pembenarannya. Namun
menurut kami begitulah pendapat yang tersebar di banyak kalangan. Shahih. Ibid.
عَنْ أَيُّوبَ قَالَ قَالَ لِي الْحَسَنُ مَا أَنَا بِعَائِدٍ إِلَى شَيْءٍ مِنْهُ أَبَدًا
4625. Dari Ayyub, ia berkata, "Al Hasan berkata kepadaku, 'Aku tidak pernah menarik pendapatku tentang takdir'." Shahih. Ibid.
عَنْ عُثْمَانَ الْبَتِّيِّ قَالَ مَا فَسَّرَ الْحَسَنُ آيَةً قَطُّ إِلَّا عَنْ الْإِثْبَاتِ
4626.
Dari Utsman Al Battiyi, ia berkata, "Al Hasan tidak pernah menafsirkan
sebuah ayat pun (dari Al Qur'an) selain dilakukannya dengan penuh
kepastian." Shahih: Ibid.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar