عَنْ جَرِيرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ كُنَّا
مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جُلُوسًا
فَنَظَرَ إِلَى الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ لَيْلَةَ أَرْبَعَ عَشْرَةَ
فَقَالَ إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ كَمَا تَرَوْنَ هَذَا لَا
تُضَامُّونَ فِي رُؤْيَتِهِ فَإِنْ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ لَا تُغْلَبُوا
عَلَى صَلَاةٍ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا فَافْعَلُوا
ثُمَّ قَرَأَ هَذِهِ الْآيَةَ فَ { سَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا }
4729.
Dari Jabir bin Abdullah, ia berkata, "Kami pernah duduk-duduk bersama
Rasulullah SAW. Kemudian beliau melihat ke arah bulan pumama; tepatnya
pada malam tanggal empat belas. Saat itu, Rasululah SAW bersabda, 'Sesungguhnya
kalian akan melihat Tuhan kalian, sebagaimana kalian melihat ini (bulan
pumama). Dan kalian tidak akan samar saat melihat-Nya. Jika kalian
mampu untuk melaksanakan shalat sebelum terbitnya matahari dan sebelum
terbenamnya, maka lakukanlah'. " Kemudian Rasulullah SAW membacakan firman Allah, "dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya...." (Qs. Thaahaa [20]: 130) Shahih: Ibnu Majah (172).
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ
نَاسٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنَرَى رَبَّنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ قَالَ
هَلْ تُضَارُّونَ فِي رُؤْيَةِ الشَّمْسِ فِي الظَّهِيرَةِ لَيْسَتْ فِي
سَحَابَةٍ قَالُوا لَا قَالَ هَلْ تُضَارُّونَ فِي رُؤْيَةِ الْقَمَرِ
لَيْلَةَ الْبَدْرِ لَيْسَ فِي سَحَابَةٍ قَالُوا لَا قَالَ وَالَّذِي
نَفْسِي بِيَدِهِ لَا تُضَارُّونَ فِي رُؤْيَتِهِ إِلَّا كَمَا تُضَارُّونَ
فِي رُؤْيَةِ أَحَدِهِمَا
4730.
Dari Abu Hurairah RA, ia berkata, "Beberapa orang berkata, 'Wahai
Rasulullah, apakah kita akan dapat melihat Tuhan kita pada hari Kiamat
kelak?' Beliau menjawab, 'Apakah kalian merasa samar melihat matahari di tengah hari bolong tanpa awan?' Mereka menjawab, 'Tidak.' Rasulullah SAW melanjutkan, 'Apakah kalian merasa samar melihat bulan pada malam purnama tanpa awan?' Mereka menjawab, 'Tidak.' Beliau bersabda, 'Demi
Dzat yang jiwaku berada dalam genggaman tangan-Nya, sungguh kalian
tidak akan merasa samar saat melihat-Nya, kecuali seperti samarnya
kalian melihat salah satu dari keduanya (matahari atau bulan pumama'." Shahih: Ibnu Majah (177). Muttafaq 'Alaih.
عَنْ أَبِي رَزِينٍ قَالَ مُوسَى الْعُقَيْلِيِّ قَالَ قُلْتُ يَا
رَسُولَ اللَّهِ أَكُلُّنَا يَرَى رَبَّهُ قَالَ ابْنُ مُعَاذٍ مُخْلِيًا
بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمَا آيَةُ ذَلِكَ فِي خَلْقِهِ قَالَ يَا أَبَا
رَزِينٍ أَلَيْسَ كُلُّكُمْ يَرَى الْقَمَرَ قَالَ ابْنُ مُعَاذٍ لَيْلَةَ
الْبَدْرِ مُخْلِيًا بِهِ ثُمَّ اتَّفَقَا قُلْتُ بَلَى قَالَ فَاللَّهُ
أَعْظَمُ قَالَ ابْنُ مُعَاذٍ قَالَ فَإِنَّمَا هُوَ خَلْقٌ مِنْ خَلْقِ
اللَّهِ فَاللَّهُ أَجَلُّ وَأَعْظَمُ
4731. Dari Abu Razin Al Uqaili, ia berkata, "Aku pernah bertanya kepada Nabi SAW,
'Wahai Rasulallah, apakah setiap orang dari kami akan melihat
Tuhannya?' Ibnu Mu'adz menyelang, Tanpa ada penghalang —pada hari kiamat
kelak,'— dan apa tanda atau bukti dari kejadian yang demikian?'
Rasulullah SAW menjawab, 'Wahai Abu Razin, bukankah kalian semua melihat
bulan purnama tanpa penghalang?'Aku (Abu Razin) menjawab, 'Ya.' Beliau
bersabda, "Sesunggunya Allah SWT lebih agung dari yang demikian."
Setelah itu, beliau bersabda, "Sesunguhnya rembulan hanyalah salah satu
dari maakhluk ciptaan-Nya. Dan Allah SWT jauh lebih jelas dan lebih
agung." Hasan: Ibnu Majah (180).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar